Cahayaislam.on-line – Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menegaskan, ibu kota baru Indonesia yang nantinya bakal di pindah mulai 2021 akan dilakukan dengan perancanaan yang matang.

Menurutnya, hal itu dilakukan supaya Ibu kota baru khusus pemerintahan itu memiliki fasilitas dasar dan layanan publik yang berkualitas dan membuat nyaman penduduknya. Khususnya untuk 1,5 juta penduduk yang mayoritas berisi pegawai pemerintahan dan keluarganya, TNI-Polri, maupun pelaku usaha di dalamnya.

Dia tidak memungkiri, pemindahan tersebut akan serupa dengan yang dilakukan Brasil, yakni dari Sao Paulo ke Brasilia pada 1960-an. Pembangunan Brasilia pun didesain dengan perencanaan yang matang dengan tata wilayah dan ruang yang baik.

“Presiden Jokowi (Joko Widodo) ingin tidak berhenti di wacana tapi pindah kongkret. Otomatis kita harus belajar dari negara lain yang sudah melakukan. Brasil sudah melakukan sejak 1950-an, 1960-an,” kata dia di kantornya, Jakarta, Rabu 10 Juli 2019.

Duta Besar Indonesia untuk Brasil periode 2010-2015, Sudaryomo Hartosudarmo mengakui bahwa Brasilia memang didesain dengan konsep yang matang. Artinya segala sesuatunya dibangun terencana, tata wilayah yang terstruktur, dan bahkan sudah sangat rapi.

“Kalau kita lihat ke Brasilia di samping sebagai kota futuristik, Yuri Gagarin bahkan pernah mengatakan ketika mendarat di Brasilia, ‘saya serasa mendarat di planet lain karena kotanya luar biasa.’ Kantor terpusat, kawasan perdagangan terpusat, lodge terpusat,” tuturnya.

https://www.cahayaislam.on-line/anies-jadi-pembicara-pemimpin-kota-se-dunia-di-kolombia/

Karena didesain dengan rancangan yang matang dan konsep yang terstruktur, dia tidak memungkiri bahwa kota tersebut memang didiami oleh orang-orang yang kaya saja. Di samping juga biaya hidupnya yang cukup tinggi di wilayah tersebut.

“Brasilia kota orang kaya memang, benar sekali, rumah-rumah besar dan untuk orang kaya. Yang kurang mampu di satelitnya, ada apartemen di sana,” kata dia di Gedung Bappenas, pada saat yang sama.

Meski demikian, dengan tingginya kebutuhan hidup di Brasilia tersebut, standar pendapatan masyarakatnya pun tinggi. Sehingga bisa menutupi segala kebutuhan.

“Penepatan saya 2010-2015 saat mata uang actual menguat itu bahkan dubes-dubes seperti Prancis dan lain-lain bahkan mengeluh, kok sama seperti Paris, London. Tapi untuk orang setempat tentu karena standar penggajian mereka tinggi juga,” tuturnya menambahkan.

Meski Bambang tidak menyebutkan secara spesifik ibu kota baru akan seperti Brasilia nantinya, namun dipastikannya unsur infrastruktur dasarnya memang akan berkualitas dan membuat nyaman penghuninya. Seperti tersedianya jaringan fuel dan air bersih untuk setiap rumah di sana, sehingga tidak lagi memerlukan LPG maupun sumur air. [vv]