Ada yang berpikiran bahwa keputusan jokowi mengangkat purnawirawan TNI sebagai Menag untuk atasi radikalisme.

Atas keputusan itu, NU meradang. Jatah abadi yang selalu mereka dapatkan, kali ini harus lepas ditangan.

Bagi saya, keputusan jokowi bukan untuk atasi radikalisme memilih ex TNI mengurusi Kemenag. Melainkan ingin mencoba wajah baru pada tubuh kementrian itu. Selama ini, kemanag dipimpin oleh orang2 NU. Walaupun berlatar belakang santri, anak kyai atau gelar ulamanya. Kemenag selalu terlibat masalah korupsi, gelar agama yang mereka sandang gak membuat ada perbaikan diri pada pelakunya.

Saya bersyukur ketika NU gak mendapatkan jatah dikementrian ini. Jika mendapat jatah, sebagai umat islam saya merasa was-was. Jangan sampai kejadian yang dulu terus berulang menjadi kebiasaan. Bayangkan, 2 orang NU terlibat khusus dan tersebut namanya dalam kasus suap jabatan dikemenag.

Ini preseden buruk bagi dunia islam dengan tokohnya. Islam selalu diburukkan dengan kelakuan umatnya sendiri. Langkah jokowi mencoba muka baru memipin departemen ini harus diapresiasi.

Saya gak peduli NU, yang saya peduli adalah nama Islam yang menjadi buruk karena kelakuan oknum yang melibatkan diri pada bidangnya. Kementrian agama memang bukan kementrian yang dianggap penting. Kementrian ini selalu dijadikan tempat bagi penguasa mengakomodir dukungan yang diberikan. Walau bukan kementrian yang favorit, kementrian agama membawa ethical pelaku yang menjadi pemimpinnya.

Jika pemimpinnya memiliki psychological Korup, yang disasar adalah rumahnya. Sebuah lembaga agama, kok mencerminkan keburukan akhlak pemimpinnya. Seperti sebuah kelompok pengajian yang diketuai oleh Bencong dengan kincringan ditangan.

Tanggapan NU atas terpilihnya Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, secara tersirat NU memperlihatkan bagaimana karakter mereka sesungguhnya. Bukannya perenungan yang mereka lakukan, malah menebarkan ancaman pada sosok jokowi. Tidak setuju atas penunjukkan Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, lalu mengatakannta tidak layak. Bukan itu saja, mereka juga menebarkan ancaman bahwa kejadian lengsernya Soeharto tahun 98 adalah peran mereka didalamnya. Jangan sampai kejadian itu terulang.