Di tengah demonstrasi mahasiswa yang terjadi di seluruh Indonesia,
Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hal ini UNICEF)l menyerukan kepada
semua pihak untuk melindungi anak-anak dari kekerasan dan menjunjung
tinggi hak-hak mereka untuk mengekspresikan diri di lingkungan yang
aman, bebas dari kekerasan dan intimidasi, menurut undang-undang
nasional dan internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, anak-anak terperangkap dalam kekerasan
dan ada laporan yang dapat dipercaya bahwa beberapa anak telah ditangkap
dan ditahan lebih dari 24 jam.

“Kita harus tetap waspada dalam menegakkan dan melindungi hak-hak
anak setiap saat,” kata Perwakilan UNICEF Debora Comini. “Anak-anak dan
remaja di Indonesia memiliki hak untuk mengekspresikan diri dan terlibat
dalam dialog tentang masalah yang mempengaruhi mereka, dan kita harus
memastikan mereka menerima dukungan yang tepat waktu dan tepat jika
mereka melakukan kontak dengan hukum.”

Konvensi PBB tentang Hak Anak mengakui hak anak untuk kebebasan
berserikat dan kebebasan berkumpul secara damai. Sejalan dengan Konvensi
Hak-Hak Anak, Undang-Undang Perlindungan Anak Indonesia menjamin hak
setiap anak di Indonesia untuk berbicara dan pendapatnya didengarkan,
termasuk dalam masalah politik, serta melindungi mereka dari
penyalahgunaan dalam kegiatan politik, dan kerusuhan sosial.

“Protes mengingatkan kita tentang perlunya menciptakan peluang yang
berarti – on-line dan offline – bagi anak-anak dan remaja untuk
mengekspresikan pandangan mereka secara bebas dan damai di Indonesia,”
kata Comini.

UNICEF meminta perhatian pada ketentuan khusus untuk anak-anak dalam sistem peradilan pidana Indonesia ketika anak-anak yang terlibat dalam protes melakukan kontak dengan hukum. Undang-Undang Peradilan Anak Indonesia menetapkan bahwa perampasan kebebasan dan pemenjaraan adalah pilihan terakhir. Penangkapan anak di bawah 18 tahun harus untuk periode maksimum 24 jam, dan setiap anak berhak untuk:

Dipisahkan dari orang dewasa; Diberikan bantuan hukum dan lainnya;
Dilindungi dari penyiksaan, hukuman atau perlakuan kejam, dan perlakuan
yang merendahkan atau merendahkan martabat; dan Penahanan, tahanan atau
hukuman penjara, untuk menerima keadilan dari pengadilan remaja yang
objektif dan tidak memihak, dan untuk menerima dukungan dari anggota
keluarga.

Konvensi PBB tentang Hak Anak adalah perjanjian hak asasi manusia
yang paling banyak diratifikasi dalam sejarah. Indonesia telah
menunjukkan komitmen yang kuat terhadap hak-hak anak sejak menjadi
penandatangan Konvensi dua puluh sembilan tahun yang lalu.

Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam pemenuhan hak-hak anak
dengan reformasi penting seperti Undang-Undang Perlindungan Anak (2002)
dan Undang-Undang Peradilan Anak (2014), yang membawa peningkatan
perlindungan bagi anak-anak Indonesia.

Supply hyperlink

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here